Hari-hari telah dilalui dan sekarang telah memasuki
bulan Muharram tahun 1439 Hijriah. Seakan
tidak terasa, waktu berjalan dengan cepat, hari berganti hari, pekan, bulan,
dan tahun berlalu silih berganti seiring dengan bergantinya siang, dan malam.
Terasa barangkali
tahun baru ini tidak seberapa berkesan karena negara Indonesia tidak
menggunakan kalender Hijriah, tetapi Masehi. Dan yang akrab dalam keseharian adalah
hitungan kalender Masehi. Tanggal lahir, pernikahan, masuk dan libur kantor dan
sebagainya. Akan tetapi sebagai seorang muslim perlu untuk sejenak menghayati
beberapa hal yang terkait dengan penanggalan Islam ini. Beberapa hal yang
seyogyanya dijadikan sebagai renungan yaitu:
1. Syukur atas Usia yang diberikan Allah
Umur
adalah rahasia Allah, maut tak bisa kita majukan ataupun kita mundurkan. Tapi jalan menuju sakaratul maut, kita yg memilih. Allah memberikan dua
pilihan, husnul khatimah dan su'ul khatimah. Terserah kita mau menempuh jalan
yg mana.
Sahabatku semuanya, kita berlindung kepada Allah terhadap jalan kematian yg
dimurkai-Nya.
Betapa banyak orang
yang kita kenal, baik teman, sahabat , keluarga, guru, atau siapa pun yang kita
kenal, tahun lalu masih hidup bersama kita. Bergurau, berkomunikasi, mengajar,
menasehati atau melakukan aktifitas hidup sehari-hari, namun tahun ini dia
telah tiada. Dia telah wafat, menghadap Allah Suhanahu wa ta’ala dengan membawa
amal shalehnya dan mempertanggungjawabkan kesalahannya. Sementara kita saat ini
masih diberi Allah kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki kesalahan yang kita
perbuat, menambah amal shaleh sebagai bekal menghadap Allah.
Umur yang kita hitung pada diri kita seringkali kita tetapkan berdasarkan hitungan
kalender Masehi. Dan hitungan atau jumlah usia kita tentu akan lebih sedikit
bila dibandingkan dengan hitungan yang mengacu pada kalender hijriyah.
Sementara, lepas dari masalah ajal yang akan datang menjemput sewakatu-waktu,
terkadang kita menganggap usia kita yang dibanding Rasulullah Saw. yang wafat
pada usia 63 tahun, kita merasa masih jauh dari angka itu. Padahal bisa jadi
hitungan umur kita telah lebih banyak dari yang kita tetapkan. Karena itu
sangat tidak layak apabila seseorang yang masih diberi kesehatan, kelapangan
rizki dan kesempatan untuk beramal lalai bersyukur pada Allah dengan
mengabaikan perintah-perintahNya serta sering melanggar larangan-larangan-Nya.
Baca juga : Keutamaan puasa sunat tarwiyah dan arafah
2. Muhasabah (introspeksi diri) dan istighfar
Sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali
lagi, sementara disadari atau tidak kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang
bermanfaat saat itu hanyalah amal
shaleh. Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal shaleh? Sudahkah tilawah
al-Qur’an, sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita
lakukan? Malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud
kepada Allah, meneteskan air mata keinsyafan ataukah lebih banyak untuk
begadang menikmati tayangan-tayangan sinetron, film dan sebagainya dari
televisi? Langkah-langkah kaki kita, kemana kita gunakan? Dan sebagainya.
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang
muslim yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, lebih-lebih dalam suasana
pergantian tahun seperti sekarang ini. Pergantian tahun bukan sekedar
pergantian kalender di rumah kita, namun peringatan bagi kita apa yang sudah
kita lakukan tahun lalu, dan apa yang akan kita perbuat esok.
Rasulullah Saw bersabda:
"Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung amal baik (dan
selalu merasa kurang) dan beramal shaleh sebagai persiapan menghadapi
kematian".
Dalam sebuah atsar yang cukup mashur dari Umar bin Khaththab ra beliau berkata
:
"Hitunglah amal kalian, sebelum dihitung oleh Allah".
3. Mengenang
Hijrah Rasulullah Saw
Sebenarnya dalam kitab Tarikh Ibnu Hisyam dinyatakan bahwa keberangkatan hijrah
Rasulullah dari Mekah ke Madinah adalah pada akhir bulan Shafar, dan tiba di
Madinah pada awal bulan Rabiul Awal. Jadi bukan pada tanggal 1 Muharram
sebagaimana anggapan sebagian orang. Sedangkan penetapan Bulan Muharram sebagai
awal bulan dalam kalender Hijriyah adalah hasil musyawarah pada zaman Khalifah
Umar bin Khatthab ra tatkala mencanangkan penanggalan Islam. Pada saat itu ada
yang mengusulkan Rabiul Awal sebagai l bulan ada pula yang mengusulkan bulan
Ramadhan. Namun kesepakatan yang muncul saat itu adalah bulan Muharram, dengan
pertimbangan pada bulan ini telah bulat keputusan Rasulullah saw untuk hijrah
pasca peristiwa Bai’atul Aqabah, dimana terjadi bai’at 75 orang Madinah yang
siap membela dan melindungi Rasulullah SAW, apabila beliau datang ke Madinah.
Dengan adanya bai'at ini Rasulullah pun melakukan persiapan untuk hijrah, dan
baru dapat terealisasi pada bulan Shafar, meski ancaman maut dari orang-orang
Qurais senantiasa mengintai beliau.
Peristiwa hijrah ini seyogyanya kita ambil sebagai sebuah pelajaran
berharga dalam kehidupan kita. Betapapun berat menegakkan agama Allah, tetapi seorang
muslim tidak layak untuk mengundurkan diri untuk berperan didalamnya.
Rasulullah SAW, akan keluar dari rumah sudah ditunggu orang-orang yang ingin
membunuhnya. Begitu selesai melewati mereka, dan harus bersembunyi dahulu di
sebuah goa,masih juga dikejar, namun mereka tidak berhasil dan beliau dapat
meneruskan perjalanan. Namun pengejaran tetap dilakukan, tetapi Allah
menyelamatkan beliau yang ditemani Abu Bakar hingga sampai di Madinah dengan
selamat. Allah menolong hamba yang menolong agama-Nya. Perjalanan dari Mekah ke
Madinah yang melewati padang pasir nan tandus dan gersang beliau lakukan demi
sebuah perjuangan yang menuntut sebuah pengorbanan. Namun dibalik kesulitan ada
kemudahan. Begitu tiba di Madianah, dimulailah babak baru perjuangan Islam.
Perjuangan demi perjuangan beliau lakukan. Menyampaikan wahyu Allah, mendidik
manusia agar menjadi masyarakat yang beradab dan terkadang harus menghadapi
musuh yang tidak ingin hadirnya agama baru. Tak jarang beliau turut serta ke
medan perang untuk menyabung nyawa demi tegaknya agama Allah, hingga Islam
tegak sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk dunia saat itu.
Lalu sudahkah kita berbuat untuk agama kita?
